Hai Teman....
Kali ini saya ingin berbagi cerita tebtang Kelumpuhan Tidur atau sering kita dengar dengan idtilah Ketindihan atau kena Tindih.
Sleep paralysis atau kelumpuhan tidur merujuk pada keadaan ketidakmampuan bergerak ketika sedang tidur
ataupun ketika bangun tidur. Seseorang yang mengalami kelumpuhan tidur
biasanya akan mengalami masalah untuk menggerakkan anggota badan, tidak
bisa mengeluarkan suara dan sebagainya. Kelumpuhan tidur biasanya juga disertai dengan halusinasi seram atau mimpi buruk.
Kelumpuhan tidur terjadi dalam keadaan si penderita sedang setengah
tidur, sedang tertidur lelap, ataupun dalam keadaan terjaga sewaktu
mengalami kelumpuhan tidur. Kondisi ini umumnya terjadi bila si
penderita tidur menelentang atau menghadap ke atas, yang ditandai dengan
merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan tidak bisa
bergerak dan sulit bersuara.
Kelumpuhan tidur diyakini terjadi akibat terganggunya fase tidur REM, yang menyebabkan terjadinya atonia otot lengkap yang mencegah seseorang untuk bertindak di luar mimpi mereka. Kelumpuhan tidur telah dikaitkan dengan gangguan lainnya seperti narkolepsi, migrain, gangguan kecemasan, dan apnea tidur obstruktif.
KLASIFIKASI
Kelumpuhan tidur bisa diklasifikasikan menjadi dua, yakni kelumpuhan tidur terisolasi (ISP) dan kelumpuhan tidur terisolasi berulang (RISP). Dari kedua tipe tersebut, ISP lebih umum terjadi jika dibandingkan dengan RISP.[2]
ISP terjadi dengan durasi yang pendek, sekitar satu menit. Kelumpuhan
tidur ISP terjadi setidaknya sekali dalam seumur hidup seseorang.[2]
Sedangkan RISP bisa digolongkan ke dalam kondisi kronis. Individu
mengalami kelumpuhan tidur yang terjadi berulang kali di sepanjang
hidupnya.[2]
Salah satu perbedaan antara ISP dan RISP adalah durasinya; RISP bisa
berlangsung hingga satu jam atau lebih, dan penderita mengalami kejadian
di luar pengalaman tubuh yang lebih tinggi, sedangkan ISP terjadi
dengan durasi yang pendek (biasanya tidak lebih dari satu menit) dan
kejadiannya hanya sebatas mimpi buruk atau halusinasi incubus.[2]
Selain itu, dalam kondisi RISP, penderita bisa mengalami kelumpuhan
tidur berulang kali pada malam yang sama, sedangkan dalam ISP tidak.
Agak sulit untuk membedakan antara katapleksi yang disebabkan oleh narkolepsi dan kelumpuhan tidur, karena kedua fenomena ini secara fisik tidak dapat dibedakan.[2] Cara terbaik untuk membedakan antara keduanya adalah dengan cara mencatat waktu ketika terjadinya serangan. Narkolepsi umumnya terjadi ketika individu sedang terjaga, sedangkan ISP dan RISP umumnya berlangsung saat individu sedang tertidur.[3]
TANDA DAN GEJALA
Patofisiologi
kelumpuhan tidur belum diidentifikasi secara konkret, namun ada
beberapa teori mengenai apa yang menyebabkan seseorang bisa mengalami
kelumpuhan tidur. Yang pertama berasal dari pemahaman bahwa kelumpuhan
tidur adalah parasomnia yang disebabkan oleh tidak sejalannya fase REM
dan bangun tidur, dengan kata lain, otak masih dalam kondisi tidur
tetapi tubuh ingin bangun, sehingga tubuh tidak bisa digerakkan.[5]
Studi polisomnografi menemukan bahwa seseorang yang mengalami
kelumpuhan tidur memiliki masa tidur REM yang lebih pendek dari
biasanya.[6]
Studi ini juga menyatakan bahwa tidak teraturnya pola tidur dapat
memicu terjadinya kelumpuhan tidur, karena malafungsi tidur REM biasanya
terjadi saat pola tidur terganggu.
Selain itu, penelitian lainnya menemukan bahwa kurang tidur juga bisa
menyebabkan terjadinya kelumpuhan tidur. Berdasarkan gelombang otak,
tidur terbagi dalam 4 tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling
ringan (masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur
paling dalam dan tahap REM. Pada tahap REM inilah mimpi terjadi. Saat
kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak
tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya; dari keadaan sadar ke
tahap tidur paling ringan, kemudian langsung melompat ke tahap REM. Oleh
sebab itu, ketika otak tiba-tiba terbangun dari tahap REM tetapi tubuh
belum, di sinilah kelumpuhan tidur terjadi. Individu merasa sangat
sadar, tetapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi dengan adanya
halusinasi munculnya sosok lain yang sebenarnya merupakan karakteristik
dari mimpi.[7]
Kelumpuhan tidur sering diiringi oleh halusinasi seram (hipnopompik atau hipnagogik) dan perasaan takut yang teramat sangat.[8]
Ketakutan penderita terhadap kelumpuhan tidur terutama berasal dari
jelasnya halusinasi yang dialaminya. Elemen halusinasi saat mengalami
kelumpuhan tidur membuat seseorang cenderung menafsirkan pengalaman
tersebut sebagai mimpi, karena objek-objek yang tidak masuk akal mungkin
muncul di dalam kamar dalam pandangan mata kasar seseorang.[9]
Ada gagasan bahwa kelumpuhan tidur ini bersifat genetik.[10] Penelitian terhadap sepasang anak kembar menunjukkan bahwa jika salah satunya mengalami kelumpuhan tidur, maka yang satunya lagi juga berkemungkinan mengalaminya.[10]
Beberapa faktor telah diidentifikasi sebagai hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelumpuhan tidur. Faktor ini termasuk insomnia
dan kurang tidur, jadwal tidur yang tidak teratur, tidur dengan posisi
terlentang, stres, terlalu sering menggunakan stimulan, kelelahan fisik,
serta penggunaan obat-obatan tertentu untuk mengobati ADHD.[2] Tidur dalam posisi terlentang dikatakan sebagai faktor utama yang memicu terjadinya kelumpuhan tidur.[11] Kelumpuhan tidur bisa juga merupakan pertanda narkolepsi (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), apnea tidur (mendengkur), kecemasan, atau depresi.
